TEORI-TEORI
BELAJAR
“Diajukan untuk Memenuhi Tugas
Ujian Tengah Semester pada
Matakuliah
Belajar dan Pembelajaran”
Dosen Pengampu
: Nurochim, MM, Drs.
![]() |
Nurhikmalasari (1112015000055)
Kelas 4 A
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
UIN
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014
TEORI-TEORI BELAJAR
I.
TEORI BELAJAR BEHAVIOURISME
Teori belajar behaviourisme adalah sebuah teori yang
dicetuskan oleh Gage
dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi
aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan
praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran
behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak
sebagai hasil belajar.
1.
Teori Belajar Menurut Edward Lee
Thorndike : Koneksionisme atau Bond-Psychology
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara
stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan
belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap
melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta
didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau
gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat
berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak
dapat diamati.[1]
Thorndike
berpendapat bahwa yang menjadi dasar belajar itu adalah asosiasi antara kesan
pancaindera (sense impresion) dengan implus untuk bertindak (impulse
to action). Asosiasi yang demikian itu Bond atau Connection.
Bentuk belajar yang khas baik pada hewan maupun manusia itu oleh Thorndike
disifatkan sebagai trial and error learning atau learning by
selecting and connecting organism (pelajar,
dalam eksperimen dipergunakan hewan juga) dihadapkan kepada situasi yang
mengandung problem untuk dipecahkan, pelajar harus mencapai tujuan. Pelajar itu
akan memilih response yang tepat diantara berbagai response yang mungkin
dilakukan.[2]
Hukum
belajar yang menurut Thorndike adalah :[3]
1.
Hukum
Kesiapan (Law of Readiness)
Hukum kesiapan melukiskan syarat-syarat yang menentukan keadaan
yang disebut “memuaskan” atau “menjengkelkan”. Secara singkat, pelaksanaan
tindakan sebagai proses respons terhadap suatu impuls yang kuat menimbulkan
kepuasan, sedangkan menghalang-halangi pelaksanaan tindakan atau memaksakannya
terjadi dalam syarat-syarat yang lain itu menjengkelkan.
2.
Hukum
Latihan (Law of Exercise)
Hukum latihan menjelaskan keadaan seperti dikatakan pepatah “
latihan menjadikan sempurna”. Dengan kata lain, pengalaman yang diulang-ulang
memperbesar peluang timbulnya respons benar. Akan tetapi,
pengulangan-pengulangan yang tidak disertai keadaan memuaskan tidak
meningkatkan belajar. (Thorndike, 1913 b, hal.20).
3.
Hukum
Efek (Law of Effect)
Hukum efek menyebutkan bahwa keadaan memuaskan menyusul respons
memperkuat pautan antara stimulus dan tingkah laku. Sedangkan keadaan
menjengkelkan atau ketidakpuasan memperlemah pautan itu. Thorndike kemudian
memperbaiki hukum itu sehingga hukuman tidak sama pengaruhnya pada belajar
dengan ganjaran.[4]
Ketiga hukum yang telah dikemukakan itu adalah hukum-hukum pokok
atau hukum-hukum primer (primary-laws). Kecuali tiga hukum primer itu
Thorndike mengemukakan pula lima macam-macam hukum subsider atau hukum-hukum
minor (subsidiary laws, minor laws). Kelima hukum subsider tersebut
merupakan prinsip-prinsip yang penting dalam proses belajar , akan tetapi tidak
sepenting hukum-hukum primer.
Adapun
kelima hukum subsider tersebut adalah :
1.
Law of Multiple response
Supaya
sesuatu respons itu memperoleh hadiah atau berhasil, maka respons itu harus
terjadi. Apabila individu dihadapkan kepada sesuatu soal, maka dia akan
mencoba-coba bebagai cara. [5]
2.
Law of Attitude
Respons-respons
yang dilakukan oleh individu itu ditentukan oleh cara penyelesaian individu yang
khas dalam menghadapi lingkungan kebudayaan tertentu. Sikap (attitude) tidak
hanya menentukan apa yang akan dikerjakan oleh seseorang tetapi juga cara yang
kiranya akan memuaskan atau tidak memuaskan baginya.
3.
Law of Partial Activity
Pelajar
atau organisme dapat bereaksi secara selektif terhadap kemungkinan-kemungkinan
yang ada dalam situasi tertentu. Manusia dapat memilih hal-hal yang pokok dan
mendasarkan tingkah lakunya kepada hal-hal yang pokok itu serta meninggalkan
hal-hal yang berkecil-kecil.
4.
Law of Associative Shifting
Apabila suatu respon dapat dipertahankan berlaku dalam serangkaian
perubahan-perubahan dalam situasi yang merangsang, maka respons itu akhirnya
dapat diberikan kepada situasi yang sama sekali baru.
Kesimpulan Saya
:
Jadi,
teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike diatas ialah suatu usaha dalam
proses pembelajaran, dimana siswa memiliki kebebasan untuk bereaksi dari
stimulus-stimulus yang diberikan atau diperoleh nya, dimana dalam proses
respons nya siswa tidak langsung menerima respon dengan baik. Artinya, sebagai
manusia, tidak secara langsung bereaksi kepada suatu perangsang, artinya
memerlukan proses yang cukup lama, dan jikalau merespon stimulus tersebut,
pasti tidak akan terjadi secara cepat.
2.
Teori Belajar menurut Ivan Petrovitch Pavlop : Classical
Conditioning
Menurut
Pavlop gerakan-gerakan refleks itu dapat berubah dan dipelajari lewat adanya
latihan. Hal ini berdasarkan keberhasilan percobaannya kepada anjing, anjing
yang satu di operasi kelenjar ludahnya sedemikian rupa, dan yang satunya lagi
dibiarkan atau tidak dioperasi. Untuk itu dia dapat membedakan dua macam
refleks, masing-masing refleks wajar (unconditioned response) dan
refleks bersyarat (conditioned response). Refleks wajar adalah refleks
yang terjadi secara alami seperti percobaannya pada anjing, dimana ketika
anjing melihat makanan yang lezat ia mengeluarkan air liurnya. Perilaku ini
pada umumnya terjadi pada seriap anjing. Adapun refleks bersyarat adalah
refleks yang terjadi karena adanya
syarat-syarat yang menimbulkan reaksi (respons). Seperti percobaannya, ketika
anjing mengeluarkan liur karena ia bereaksi terhadap warna sinar tertentu, atau
tehadap suatu bunyi-bunyian-Pavlop menggunakan bunyi bel.[6]
Secara
eksplisit, dari hasil percobaab Pavlop dapat disimpulkan bahwa suatu proses
perubahan terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian
menimbulkan reaksi (respons) dimana respons itu lewat latihan yang
kontinu akan menjadi semacam tindakan yang terjadi secara otomatis (alami).[7] Pavlov mengemukakan empat peristiwa
eksperimental dalam proses akuisi dan penghapusan sebagai berikut:[8]
1. Reflek bersyarat (Conditioned
reflex) biasanya disingkat CR.
2. Pertanda atau signal disebutnya
perangsang bersyarat (conditioned stimulus) biasanya disingkat CS.
3.
Perangsang tak bersyarat (unconditioned stimulus)
disingkat US, contohnya makanan.
4.
Refleks tak bersyarat (unconditioned reflex)
disingkat UR, contohnya air liur anjing yang tadi.
Kesimpulan Saya
:
Jadi,
teori belajar menurut Pavlop ialah lebih menekankan kepada hasil, namun dalam
implikasinya proses-proses yang terjadi lebih dominan untuk pembentukan
tindakan atau kebiasaan dari seorang anak didik. Di dalam teori ini terdapat
rangsngan yang akan membuat respons berupa refleks terhadap suatu tindakan yang
akan diperbuatnya. Metodenya sama dengan Thorndike, bahwa Pavlop juga beracuan
pada stimulus dan respon yang dihasilkan.
3.
Teori Belajar menurut Frederic Skinner : Instrumental Conditioning
Teori
ini menyatakan bahwa tingkah laku yang dipelajari berfungsi sebagai instrumen
(penolong) untuk mencapai hasil atau ganjaran yang dikehendaki. Dalam hal ini
Skinner membedakan respons ke dalam dua macam :[9]
1.
Repondent
response (reflexive response),
yakni respon yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu, seperti
anjing yang mengeluarkan air liur setelah ia melihat makanan tertentu. Pada
umumnya perangsang-perangsang yang demikian itu mendahului respons yang
ditimbulkannya.
2.
Operant
response (instrumental response), yakni
respons yang timbul dan perkembangannya diikuti oleh perangsangan-perangsangan
tertentu. Contoh seorang anak belajar, ia mendapat hadiah, maka ia akan lebih
giat lagi belajarnya. Proses belajar pada teori ini , tunduk pada dua hukum
operan yang berlawanan yaitu : Law of
Operant Conditioning dan Law of Operant Extinction. Yang
pertama menyatakan bahwa respons yang terjadi karena didahului oleh semua
stimulus atau reinforce, sedangkan yang kedua menyatakan bahwa respons
yang terjadi tanpa didahului oleh stimulus.
Kesimpulan Saya
:
Menurut
pengamatan saya mengenai teori yang dikemukakan oleh Skinner adalah, bahwa
tingkah laku point yang sangat penting dalam sebuah proses belajar. Belajar
tanpa ada yang membuat, tanpa adanya perubahan dalam diri atau tingkah laku
kita, bisa dikatakan bahwa hasil daripada stimulus tersebut tidak mendapatkan
sebuah hasil atau respons yang baik.
4.
Teori Belajar menurut Clark Hull
Sistem behavioral Clark Hull dan teori Kontiguiti Edwin
Guthrie keduanya saling berlawanan secara tajam. Teori Hull bersifat ketat,
abstrak dan rumit, sedangkan sebaliknya.
Sistem Tingkah-laku Clark Hull. Teori Hull merupakan contoh dari
metode ketat yang disarankannya dalam menyusun teori, yaitu metode
hipotetiko-deduktif. Dengan prosedur ini maksudkan akan dapat ditemukan
hukum-hukum dasar psikologi. (Hull, 1935).
Metode Hipotetiko-deduktif. menurut Hull titik tolak untuk terjadinya suatu teori
ialah seperangkat asumsi bahwa yang dinyatakan secara eksplisit atau postulat
dan batasan operasional istilah-istilah pokok. Sesudah itu dideduksi secara
ketat sekali proposisi (hipotesa) dari postulat-postulat itu.
Konsep Pokok. Karena pengaruh faham evolusi, Hull (1943) berpendirian
bahwa tingkah laku itu berfungsi menjaga agar organisme tetap bertahan hidup.
Konsep sentral teorinya berkisar kepada kebutuhan bilogis dan pemuasan
kebutuhan, hal yang penting bagi kelangsungan hidup. Oleh Hull kebutuhan
dikonsepkan sebagai dorongan (drive), seperti lapar, haus, tidur,
hilangnya rasa nyeri dan sebagainya. Stimulus yang disebut stimulus dorongan
(SD), dikaitkan dengan dorongan primer dan karena itu “mendorong” timbulnya
tingkah laku. Penguatan tingkah laku juga dimasukan dalam teori, tetapi
penguatan itu merupakan kondisi biologis, pemuasan kebutuha biologis disebut
reduksi dorongan (drive reduction). Kekuatan pautan S-R atau kebiasaan
dapat diukur pada skala angka 100. Mengingat bahwa belajar itu hasilnya
bersifat makin bertambah, maka menurut Hull, kekuatan kebiasaan bisa meningkat sampai
mencapai angka maksimum.[10]
Kesimpulan
Saya :
Teori belajar menurut Clark Hull lebih
kepada hasil pembentukkan tingkah laku daripada seseorang yang mendapatkan S-R.
Belajar merupakan kebiasaan yang tercermin dari tingkah laku seorang peserta
didik, jika hal yang sudah menajdi kebiasaan itu dapat terus terjaga
kekuatannya, maka peserta didik pun bisa mencapai angka maksimum dalam proses
pemebelajarannya.
5.
Teori belajar menurut Edwin Guthrie
: Teori Conditioning
Dalam hal ini Guthrie mengemukakan bagaimana metode mengubah
kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik. Bagi Guthrie tingkah laku manusia secara
keseluruhan dipandang sebagai deretan-deretan tingkah laku yang terdiri dari
unit-unit. Dan unit-unit tingkah laku itu merupakan reaksi atau respons dari
perangsang/stimulus yang berasosiasi menjadi sebuah tingkah laku.
Menurut teori Conditioning
Guthrie, rekomendasi yang bisa d[11]iberikan
untuk memperbaiki kebiasaan buruk itu antara lain :
a.
Metode Reaksi Berlawanan (Incompatible Response Methods)
Manusia itu salah satu organisasi
yang selalu bereaksi terhadap perangsang-perangsang tertentu. Apabila suatu
reaksi terhadap perangsang-perangsang telah menjadi suatu kebiasaan, maka cara
untuk merubah ialah dengan jalan mengembangkan perangsang (stimulus) untuk mendapatkan
reaksi (respons) yang berlawanan dengan reaksi buruk yang hendak dihilangkan.
b.
Metode Membosankan (Exhaustion Methode)
Dalam metode ini antara asosiasi,
perangsang, dan reaksi (S—R) pada tingkah laku buruk tersebut dibiarkan saja
sampai lama mengalami keburukan itu, sehingga menjadi bosan.
c.
Metode Mengubah Lingkungan (Change of Environ Methode)
Metode ini adalah metode yang dilakukan dengan jalan
memutuskan atau memindahkan hubungan antar stimulus dan respons buruk yang akan
dihilangkan, yaitu menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang disebabkan oleh
suatu perangsang itu sendiri.
Kesimpulan
Saya :
Guthrie lebih menekankan pada proses
pembentukan tingkah laku yang lebih baik. Dengan cara menggunakan-menggunakan
metode-metode yang mengubah perilaku atau tingkah laku peserta didik. Perubahan
perilaku itu juga masih disebabkan adanya stimulus-respons yang
mempengaruhinya.
II.
TEORI BELAJAR KOGNITIF
1.
Teori Belajar Menurut Kurt Koffka
Titik tolak yang digunakan Koffka dalam mempersoalkan
belajar adalah asumsi bahwa hukum-hukum organisasi dalam pengamatan itu berlaku
bagi belajar. Hal ini dikemukakan berdasar pada kenyataan bahwa belajar itu
pada pokoknya yang terpenting adalah penyesuaian pertama, yaitu mendapat
respons yang tepat. Karena penemuan respons yang tepat ini tergantung pada strusturierung
daripada bahan yang tersedia di depan si pelajar, maka mudah atau sukarnya
problem itu terutama adalah masalah pengamatan. Dalam arti tertentu Chimpanse
Kohler memang dihadapkan pada problem pengamatan itu, dan apabila dapat
“melihat” situasi itu dengan cepat maka mereka memperoleh “pencerahan” dan
dapat memecahkan masalah yang dihadapinya.
Kesimpulan
saya :
Jadi,
apa yang dimaksudkan oleh Koffka diatas ialah bahwa belajar itu harus
memperhatikan asumsi-asumsi yang terstruktur agar respon yang diterimanya dapat
terlaksana dengan tepat. Karena belajar itu merupakan proses dimana dalam
proses ada kegiatan-kegiatan atau sarana dan prasarana yang mendukung dalam
proses pembelajaran tersebut.
2.
Teori Belajar menurut Wolfang Kohler
Kohler, merupakan tokoh dari aliran teori Gestalt. Penelitian
dalam belajar menurut Kohler adalah
perubahan dalam proses persepsi merupakan landasan dalam belajar. Perangkat
eksperimen pokoknya meliputi komponen : makanan yang ditaruh diluar jangkauan
binatang dan satu mekanisme diletakkan di dekatnya. Jika digunakan secara
tepat, mekanisme itu akan menghasilkan makanan bagi binatang tersebut. Dalam
eksperimen yang sederhana, makanan digantung dari atap dekat suatu perancak.
Dalam eksperimen yang lain makanan diletakkan diluar kurungan dengan bilah kayu
atau ranting mati disebelahnya. Dalam suatu situasi yang kompleks, untuk
mencapai makanan perlu dilakukan penyambungan dua batang pilah. Kohler mencatat
bahwa bilah, ranting, atau kayu mekanisme lain dipersepsi binatang itu sebagai
alat, maka masalah itu dipecahkan. Proses ini dinamakan insight
(pemahaman). Karena itu Kohler berpendirian bahwa rumus belajar “stimulus
respons” perlu diganti. Sebagai gantinya ia menyarankan bahwa rumus belajar itu
seharusnya konstelasi stimulus-organisasi-reaksi pada ahsil organisasi. (Kohler,
1929 hal.108).[12]
Kesimpulan
Saya :
Koffka tidak menyetujui akan teori
behaviourime yang dominan tokohnya berpandangan atau beracuan pada S-R
(Stimulus dan Respon ). Dia beranggapan bahwa pemahaman atau insight yang
harus dijadikan acuannya.
3.
Teori Belajar menurut Wertheimer
Dalam
hubungannya dengan prinsip belajar, aliran ini memiliki teori belajar yang
disebut dengan instingtual leaning. Menurut teori ini bahwa manusia
adalah organisme yang aktif berusaha mencapai tujuan, dan untuk mencapai itu
individu bertindak atas dasar berbagai pengaruh di dalam dan di luar individu.
Menurut
tokoh dalam aliran ini yaitu Wertheimer bahwa hanya dengan belajar seseorang
akan memperoleh insight. Insight sendiri diartikan sebagai perolehan
hubungan tertentu sebagai unsur dalam situasi tertentu sehingga menunjukkan
struktur dan susunan yang jelas. Agar mampu memecahkan masalah, timbulnya insight
tergantung kepada :[13]
1.
Kesanggupan, kematangan, dan intelegensi individu.
2.
Pengalaman seseorang.
3.
Sifat atau taraf kompleksitas. Kalau situasi itu selalu
kompleks, kita tidak akan sanggup memperoleh insight sehingga masalah
itu tidak terpecahkan.
4.
Latihan. Melalui latihan-latihan kita akan mempertimbangkan
kesanggupan dalam memperoleh insight .
5.
Trial and Error. Setelah beberapa kali mengadakan percobaab, baru kita
mendapat gambaran yang lebih jelas tentang hubungan antara berbagai unsur dalam
persoalan itu, akhirnya kita akan memperoleh insight dan kita dapat
memecahkan suatu persoalan.
Kesimpulan
Saya :
Jadi antara teori kognitif yang dikemukakan oleh Wertheimer
di atas ialah bahwa seseorang atau peserta didik belajar untuk memperoleh
sebuah pemahaman atau insight. Dimana insight itu diperoleh
dengan berbagai cara ada dengan menggunakan latihan, pengalaman, perkembangan
individu dan lain sebagainya.
4.
Teori Belajar menurut Kurt Lewin
Menurut Lewin dalam teorinya bahwa kemauan dihadapkan dengan
kebiasaan, dan selanjutnya diusahakan untuk mengukur kemauan secara
kuantitatif. Ada tiga syllable tanpa arti itu, yaitu :[14]
1.
Belajar sebagai perubahan dalam srtuktur kognitif
Perubahan srtuktur kognitif itu
sebagian berlangsung dengan prinsip pemolaan (patterning) dalam
pengamatan, jadi disini lagi terbukti betapa pentingnya pengamatan itu di dalam
belajar. Perubahan ini disebabkan oleh kekuatan yang telah intrinsik ada dalam
struktur kognitif.
2.
Hadiah dan hukuman menurut interpretasi Kurt Lewin
a. Situasi yang mengandung hukuman
b. Situasi yang mengandung hadiah
3.
Masalah yang berhasil dan gagal
Kurt Lewin lebih setuju penggunaan
istilah sukses dan gagal daripada hadiah dan hukuman. Apabila tujuan yang akan
dicapai adalah intrinsik, maka kita lebih tepat berbicara tentang tujuan itu
berhasil atau gagal untuk dicapai daripada kita berbicara tujuan itu mengandung
hadiah atau hukuman.
4.
Sukses membawa mobilisasienergi cadangan
Kurt Lewin beranggapan bahwa dinamika kepribadian itu
dikarenakan oleh adanya energi dalam diri orang, yang disebut energi psikis.
Energi psikis inilah yang dipergunakannya untuk bermacam-macam aktivitas,
seperti misalnya mengamati, mengingat, berfikir dan sebagainya.
Kesimpulan
Saya :
Bahwa pada umumnya tokoh-tokoh dalam teori kognitif lebih
mengacu pada prosesnya dibandingkan hasilnya, Lewin dalam teorinya, bahwa
kemauan individu itu akan meciptakan sebuah kebiasaan. Jadi, proses belajar
terhadap peserta didik lebih ditekankan kepada prosesnya yang paling awal.
5.
Teori belajar menurut Weiner
Menurut Weiner, motivasi merupakan suatu usaha untuk
berprestasi. Khususnya teori ini pusat kajiannya ialah reaksi untuk orang atas
keberhasilan dan kegagalan prengaruh kepercayaan ini pada tingkah laku
berikutnya.
Tiga
arah penelitian menurut Weiner (1977) antara lain :[15]
1.
Penggolongan penyebab tingkah – laku menurut presepsi
2.
Hukum umum yang membuahkan informasi anteseden dengan
struktur kognitif seseorang
3.
Perkembangan persambungan antara inferensi penyebab dan
tingkah-laku kasat mata yang muncul berikutnya
Perkembangan awal teori atribusi Weiner bermula dengan
pengenalan empat penyebab pokok yang khas dipilih individu-individu untuk
menjelaskan dicapainya keberhasilan dan dialaminya kegagalan dan hubungan
konseptual antara akibat –akibat, atau hasil-hasil kerja yang dimilikinya dan
tingkah-laku yang terjadi berikutnya. Ada empat penyebab pokok itu adalah
kemampuan, usaha, kesulitan tugas, dan kemujuran, yang menjadi inti dari teori
Wainer. Yang dikenali kemudian ialah sifat–sifat atau
dimensi–dimensi penyebab pokok itu, demikian dikenali peran reaksi afektif
sebagai motivator tingkah-laku.
Kesimpulan
Saya :
Jadi.
Teori Weiner diatas ada keterkaitannya antara motivasi dengan prestasi belajar
siswa, yang pada prosesnya ada hubungan seba-akibat dalam pembentukkan tingkah
laku serta pemahaman dalam belajar.
6.
Teori Belajar menurut Piaget
Teori belajar piaget disebut cognitive-development
yang memandang bahwa proses berfikir sebagai aktivitas gradual dari pada fungsi
intelektual dari kongkrit. Belajar terdiri dari tiga tahapan yaitu : asimilasi,
akomodasi dan equilibrasi. Piaget juga mengemukakan bahwa proses belajar harus
disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa. Proses
belajar yang dialami seorang anak berbeda pada tahap satu debfab tahap lainnya
yang secara umum semakin tinggi tingkat kognitif seseorang maka semakin teratur
dan juga semakin abstrak cara berpikirnya. Oleh karena itu guru seharusnya
memahami tahap-tahap perkembangan kognitif anak didiknya serta memberikan isi,
metode, media pembelajaran yang sesuai dengan tahapannya. [16]
Langkah-langkah pembelajaran dalam merancang pembelajaran
menurut Piaget, antara lain:1) menentukan tujuan pembelajaran; 2) memilih
materi pembelajaran; 3) menentukan topik-topik yang dapat dipelajari oleh
peserta didik; 4) menentukan dan merancang kegiatan pembelajaran sesuai topik;
5) mengembangkan metode pembelajaran; 6) melakukan penilaian proses dan hasil
peserta didik.
Kesimpulan
Saya :
Teori
belajar ini memang banyak dipergunakan terutama dalam kegiatan pembelajaran,
dimana adanya keterkaitan antara siswa, guru serta sarana dan prasana yang
mendukung proses pembelajaran tersebut.
III. TEORI
BELAJAR KONSTRUKTIVISME
1.
Teori belajar menurut Kleiner dan
Simons
Konstruktivisme adalah integrasi
prinsip yang diekplorasi melalui teori chaos, network, dan teori kekompleksitas
dan organisasi diri. Belajar adalah proses yang terjadi dalam lingkungan
samar-samar dari peningkatan elemenelemen inti- tidak seluruhnya dikontrol oleh
individu. Belajar (didefinisikan sebagai pengetahuan yang dapat ditindak) dapat
terletak di luar diri. Analisis jaringan sosial merupakan unsur-unsur tambahan
dalam memahami model-model belajar di era digital. Art Kleiner (2002)
menguraikan quantum theory of trust milik Karen Stephenson yang menjelaskan
tidak hanya sekadar bagaimana mengenal kapabelitas kognitif kolektif dari suatu
organisasi, tetapi
bagaimana mengolah dan meningkatkannya. Starting Point konstruktivisme adalah
individu. Pengetahuan personal terdiri dari jaringan, yang hidup dalam
organisasi atau institusi, yang pada gilirannya memberi umpan balik pada
jaringan itu, dan kemudian terus menerus member pengalaman belajar kepada individu
gerak perkembangan pengetahuan.[17]
Kesimpulan Saya
:
Dari keterangan
diatas, bahwa teori konstrukivisme ialah teori yang lebih mendekatkan pada
teori atau pandangan kognitif. Dimana pengetahuan personal dalam diri seseorang
yang menjadi titik acuan.
IV.
TEORI BELAJAR
HUMANISTIK
pendekatan
humanistik dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan
yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang
mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan
interpersonal sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk
memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Keterampilan
atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam
pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik.
1.
Teori Belajar menurut Athur Combs
Dari bukunya Freedom To Learn,
Rogers menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang penting
diantaranya ialah :
a. Manusia itu
mempunyai kemampuan belajar secara alami.
b. Belajar yang
signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi
dengan maksud-maksud sendiri.
c. Belajar yang
menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diangap
mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
d. Tugas-tugas
belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan
apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
e. Apabila
ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai
cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
f. Belajar yang
bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
g. Belajar
diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut
bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
h. Belajar
inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun
intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
i.
Kepercayaan terhadap diri sendiri,
kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan
untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain
merupakan cara kedua yang penting.
j.
Belajar yang paling berguna secara
sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu
keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam
diri sendiri mengenai proses perubahan itu.[18]
2.
Teori Belajar
menurut Carl Ransum Rogers
Carl Ransom Rogers (1902-1987)
lahir di Oak Park, Illinois pada tanggal 8 Januari 1902. Teori humanistik
Rogers mempunyai berbagai nama antara lain : teori yang berpusat pada pribadi (person
centered), non-directive, klien (client-centered), teori yang
berpusat pada murid (student-centered), teori yang berpusat
pada kelompok (group centered), dan person to person). Namun
istilah person centered yang sering digunakan untuk teori Rogers.
Rogers menyebut teorinya bersifat
humanis dan menolak pesimisme suram dan putus asa dalam psikoanalisis serta
menentang teori behaviorisme yang memandang manusia seperti robot. Teori
humanisme Rogers lebih penuh harapan dan optimis tentang manusia karena manusia
mempunyai potensi-potensi yang sehat untuk maju. Dasar teori ini sesuai dengan pengertian
humanisme pada umumnya, dimana humanisme adalah doktrin, sikap, dan cara hidup
yang menempatkan nilai-nilai manusia sebagai pusat dan menekankan pada
kehormatan, harga diri, dan kapasitas untuk merealisasikan diri untuk maksud
tertentu.
3.
Teori Belajar
menurut Abraham Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam
diri individu ada dua hal :
1.
suatu usaha yang positif untuk
berkembang.
2.
kekuatan untuk melawan atau menolak
perkembangan itu.
Maslow mengemukakan bahwa individu
berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hierarkis. Pada
diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut
untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut
membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain
seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan
diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi
dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri (self).
Maslow
membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hierarki. Bila
seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis
(udara, makanan, air, tidur), barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang
terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman / safety needs
(lapangan kerja, kesehatan), kebutuhan untuk dimiliki dan dicintai / belongingness
needs (keluarga, persahabatan, cinta), kebutuhan akan harga diri /
esteem needs (harga diri, kepercayaan diri) dan kebutuhan aktualisasi diri
/ self actualization needs (moralitas, kreativitas).
Kesimpulan Saya :
Jadi, menurut teori humanisme, bahwa peserta
didik bebas untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Peserta didik harus
mengembangkan potensi yang dimilikinya.
V.
TEORI BELAJAR
KECERDASAN GANDA (MULTIPLE INTELLEGENT)
Kontribusi Gardner yang sangat besar dalam ilmu pendidikan
dan ilmu pengetahuan pada umumnya adalah teori tentang kecerdasan ganda,
sebagaimana tertuang dalam bukunya bertajuk Frame of Mind: The Theory of
Multiple Intelligence yang menyebutkan tujuh tipe kecerdasan manusia,
yakni:
- linguistic intelligence atau kecerdasan linguistik (bahasa).
- musical intelligence atau kecerdasan musikal
- logical-mathematical intelligence atau kecerdasan logical-matematikal
- visual/spatial intelligence atau kecerdasan visual/spasial
- body/kinesthetic intelligence atau kecerdasan ragawi/kinestetis
- intrapersonal intelligence atau kecerdasan intrapersonal
- interpersonal intelligence atau kecerdasan interpersonal.
Menurut Gardner, jenis pekerjaan, karir, atau profesi
tertentu akan melibatkan kombinasi dari beberapa macam kecerdasan. Jarang
sekali jenis pekerjaan tertentu itu yang hanya memerlukan satu dari ketujuh
kecerdasan tersebut. Namun, dapat juga dipastikan bahwa jenis pekerjaan
tersebut akan memerlukan satu kecerdasan yang sangat dominan. Sebagai missal,
jenis pekerjaan wartawan atau penulis, pasti akan memerlukan kecerdasan bahasa.
Selain itu, jenis pekerjaan itu pasti akan memerlukan kecerdasan interpersonal,
yakni satu tipe kecerdasan yang membutuhkan keahlian dalam berkomunikasi dengan
orang lain. Seorang pelaut, seperti orang Puluwat yang tinggal di Pulau
Caroline yang memiliki kemahiran dalam mendayung kano di laut bebas, atau
bandingkan dengan orang Raas di Kepulauan Kangean, Madura, Provinsi Jawa Timur
yang konon memiliki kemahiran dalam menyelam sampai beberapa jam untuk mencari
kerang di laut dalam. Mereka pasti harus memiliki satu kecerdasan yang dominan,
yakni kecerdasan ragawi atau kinestetis dan juga kecerdasan spasial. Namun
demikian, mereka juga pasti akan memiliki paduan dengan tipe kecerdasan yang
lainnya.[19]
Kesimpulan Saya :
Bahwa setiap manusia mempunyai kecerdasan yag berbeda-beda, untuk
itulah ada yang dinamakannya pengukuran intellegen seseorang untuk mengetahui
tingkat kecerdasan yang dimiliki dalam diri orang tersebut dan untuk mengetahui
minat dan bakat serta fantasi maupun imajinasi. Dan untuk kecerdasan gandam
bisa dimulai tingkat kecerdasan bahasa, musikal, visual dan lain-lain.
DAFTAR
PUSTAKA
Azhari, Akyas. Psikologi
Umum dan Perkembangan. Jakarta : Teraju, 2004.
Suryabrata, Sumadi . Psikologi Pendidikan”. Jakarta :
Rajawali Pers, 2006.
Bell Gredler, Margaret
E. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Grafindo, 1994.
[2]
Sumadi Suryabrata,2006. “Psikologi Pendidikan”. Jakarta : Rajawali Pers
[3]
Margaret E.Bell Gredler,1994. “Belajar dan Pembelajaran”. Jakarta :
Grafindo.
[4] Ibid hal.51
[5]
Suryabrata, “Psikologi Pendidikan” hal.255.
[6]
Akyas Azhari,2004.”Psikologi Umum dan Perkembangan”.Jakarta:Teraju.
[7] Ibid hal.127.
[8] Suryabrata, Psikologi Pendidikan hal.263.
[9] Azhari, Psikologi Umum dan Perkembangan
hal.128.
[10]
Margaret Belajar dan Pembelajaran. Hal 77.
[11] Azhari,
Psikologi Umum dan Perkembangan. hal 135.
[12] Margareth,
Belajar dan Pembelajaran. Hal 59.
[13] Azhari,
Psikologi Umum dan Perkembangan. hal 139
[14] Suryabrata, Psikologi Pendidikan. Hal 280.
[18] Makalah kelompok 6

Tidak ada komentar:
Posting Komentar